kerjaholic
situsdepnaker
brangkas-kerja
forums cancer
vitroculture

Jumat, 13 Maret 2009

Manusia diciptakan memang sudah direncanakan

Manusia diciptakan memang sudah direncanakan oleh Sang Khalik untuk mengelola dan mengatur bumi dengan seizin-Nya, oleh karena itu ia mempunyai keistimewaan yang tidak dimiliki oleh makhluk lain. Yang paling menonjol adalah adanya akal yang merupakan perpaduan antara berfungsinya pendengaran, penglihatan dan hatinya.

Namun, tidak semua manusia yang diizinkan oleh Allah untuk mengatur dan mengelola bumi ini, hanya manusia-manusia yang mau tunduk kepada Sunatullah sajalah yang mampu untuk itu.

Maka jangan coba-coba memberanikan diri mengatur-ngatur bumi dan mengelolanya tanpa seizin-Nya. Dipastikan akan mengalami kehancuran! Kalau nggak percaya, lihat saja sejarah masa lalu dan kini.

Manusia mempunyai ajal yang terbatas, namun hasil buah karyanya akan abadi tak lekang oleh zaman. Itulah keistimewaannya yang khusus.

Kamis, 12 Maret 2009

memberinya........

Ketik di suatu kesempatan saya di telepon oleh teman sekolah, yang lama tidak ada kabarnya, “giman kabar mu sekarang” tanya saya ..”saya baru keluar penjara dan sempet 11 bulan menikmati keterpurukan di sel dan Alhamdulillah sekarang saya sudah insyaf karena saya sadar apa yang telah saya lakukan dengan menjual obat-obat terlarang dan pencurian sepedah motor membuat saya menderita, padahal saya hanya iseng melakukan semua itu” ..saya hanya mendengarkan penyesalan dia dan tidak terlintas dalam benak saya kalau dia melakukan hal tersebut, karena saya tahu dulunya dia orang yang baik.

Mudah-mudahan apa yang dia alami adalah teguran dari Allah supaya dia bisa meningkatkan kembali keimanannya dan apa yang ia alami bisa menjadi pelajaran yang berharga supaya bisa lebih baik lagi dalam menjalani hidupnya dalam mengabdi kepada yang Maha pemberi maaf dan pemberi taufik dan hidayah yaitu Allah Swt. Amiin

Mungkin dari cerita tersebut dapat memberikan pencerahan supaya kita menyadari bahwa dalam diri kita terdapat keistimewaan di banding dengan mahluk-mahluk lain (benda, tumbuhan dan hewan) yaitu kesadaran tentang dirinya sendiri. Ia sadar tentang apa siapa dan bagimana.

Manusia bisa memilih, merencanakan dan menentukan segala sesuatu untuk dirinya supaya dalam menjalani hidup tidak asal-asalan atau yang penting gua senang, tapi kita juga harus mempertimbangkan baik buruknya bagi diri kita dan orang lain.
And
Betapa sempitnya pikiran manusia. Ia mengira Allah memberinya nama, padahal ia hanyalah seseorang di antara yang lainnya. Ia mengira Allah memberinya keluarga, padahal banyak orang dapat disebutnya sebagai saudara. Ia mengira Allah memberinya sebuah rumah dan sepetak halaman, padahal Allah menganugerahinya alam untuk dijaga dan dikelola.

Jika bertahan dalam ruang benaknya yang sempit itu, selamanya manusia akan gagap saat menghadapi dunia. Bukan persaudaraan yang ia kembangkan, melainkan egoisme. Bukan kesetaraan antar manusia yang ia pertahankan, melainkan manipulasi dan penindasan. Bukan kelestarian alam yang ia perjuangkan, melainkan eksploitasi besar-besaran.

Rabu, 11 Maret 2009

Kebodohan manusia

Kebodohan manusia
Keinginan dan kebencian terhadap sesuatu berbanding tidak lurus dengan keuntungan dan kerugian diri. Tidak lurus, sebab di antara keinginan dan keuntungan terdapat kualitas pengetahuannya akan keuntungan itu. Dan perbedaan penilaian atas baik jahatnya sesuatu amat bergantung pada pengetahuan kita ihwal menguntungkan tidaknya sesuatu itu. Dalam kasus siaga/awasnya Gunung Merapi saja, terjadi perselisihan pendapat. Tentunya, semakin wawasan seseorang atas dimensi kasus itu lebih luas, semakin lebih akurat penilaiannya atas untung ruginya kasus itu. Dari penilaian itulah ia bisa merasakan baik atau buruknya dampak sosial pada dirinya.---------------------------------------------------------------
SEPERTI yang diakui Haidar Bagir, perdebatan seputar isu kejahatan pasti tak akan berhenti sampai di sini dan memang ia akan tetap tinggal sebagai misteri. Tanpa penegasan senada kata pasti dan memang, gaya fideistik Bagir tidak sepenuhnya menolak penjelasan dan pembelaan rasional, sejauh yang diupayakannya di sela-sela pemetaan yang padat terhadap isu kejahatan. Hal yang mungkin saya lakukan untuk mengkompromikan kecenderungan fidestik Bagir dan upaya rasionalnya ialah berusaha mentakwil, kalau tidak memaksakan, sebisa mungkin cara penjelasan rasionalnya tidak seketat Rasionalisme, tetapi lunak sekaligus kritis. Yakni, penjelasan rasional yang pasti sekalipun dapat diuji secara terus menerus dan menuntut sebesar keberanian merubah keimanan sampai titik 180 derajat.

Sama dengan Rasionalisme dan Fideisme di atas, Rasionalisme Kritis mengakui adanya basis dalam membangun keimanan. Bedanya dengan yang kedua, ia memandang basis itu sebagai awal keimanan yang rasional dan berkesadaran. Minimalnya, ada kesadaran bahwa kebenaran itu ada dan bisa ditemukan kendati tidak sepenuhnya. Di dalam proses penemuan dan pemecahan masalah, ia diberi peluang untuk memegang keimanan akan kebenaran sebuah agama dan doktrinnya. Ia tidak akan puas dengan apa yang terakhir dicapainya, dan senantiasa dalam rangka penemuan dan pendalaman hakikat. Ia bisa sebagai seorang mukmin sekaligus siap menerima segala kekeliruan yang mungkin dijumpainya. Karena, tidak ada korelasi niscaya antara memiliki sebuah keimanan dan melindunginya secara fanatik buta. Seorang mukmin bisa mempertahankan keimanannya selama diyakininya sebagai kebenaran, dan pasrah di hadapan kebenaran yang baru terungkap seketika ia mendapatkan dirinya di dalam kekeliruan. Maka itu, Rasionalisme Kritik tidak selalunya memastikan seorang mukmin menjadi pluralis atau skeptis.

Dengan cara ini, kiranya akan tetap terbuka -untuk dihadapi- kemungkinan pemecahan suatu masalah. Perubahan keimanan pun tidak akan selamanya semacam lompat gaya batu, tapi bisa juga serupa lompatan spiral. Seperti di awal tulisan, apapun ihwal keberakhirannya, lompatan ini berawal dari titik yang jelas, yaitu kesadaran minimal di atas tadi. Maka itu, "Penilaian rasional atas masalah kejahatan”, menurut Peterson, “perlu dilakukan dengan memeriksa segenap argumentasi yang mendukung atau yang melawan keimanan agama. Penilaian final akan bergantung pada pengamatan kita, bahwa pandangan dunia Tauhid secara umum seberapa bobotnya dibandingkan dengan pandangan dunia lainnya" (10).

Memahami Masalah Kejahatan

Dalam rangka melakukan tugas rasionalisme kritis sekaitan dengan masalah kejahatan, berikut ini adalah upaya mengajukan sebuah argumentasi filosofis atas resistensi keimanan agama seorang mukmin di hadapan masalah tersebut. Seperti yang telah disinggung, modus filosofis tidak dari asumsi yang sudah lebih dahulu diterima kebenarannya untuk kemudian menawarkan penjelasan logis (filosofis). Dan ini tidak lantas membuat kita kehilangan langkah awal. Bagaimanapun, masalah mesti dimulai dari titik yang jelas. Yakni, dari manakah kita memulai? Mengikuti kebiasaan Murthadha Muthahari, mempelajari konsep dan definisi itu lebih gawat daripada membangun argumentasi. Yakni, kita memulai dari konsep-konsep atau keyword yang terkait dengan masalah. Di sini, setidaknya ada dua konsep: Tuhan dan Kejahatan.

Ghalibnya dalam filsafat, tuhan diartikan sebagai wajibul wujud; hakikat yang niscaya adanya. Lawannya adalah mumkinul wujud; sesuatu yang tidak niscaya adanya, ia mengada berkat selainnya. Dalam hal ini, Tuhan bisa pula berarti sebagai Sumber Wujud. Maka, segala bentuk realitas dan kejadian adalah tindakan dan ciptaan Tuhan, secara langsung atau tidak. Dan jika Dzat Tuhan ini diurai sesuai alur logisnya, akan ditemukan berbagai sifat-sifat sempurna dan tak terbatas.

Kaitannya dengan masalah kejahatan dalam bentuknya yang alami atau yang disengaja (oleh manusia), ada beberapa sifat Tuhan yang menonjol karena dipersoalkan konsistensinya dengan sifat-sifat lain-Nya, bahkan dengan dasar pengertian Tuhan itu sendiri. Tanpa hendak memprediksi ke depan, selama ini penyelesaikan atau pengalihan masalah dilakukan melalui satu di antara empat status Tuhan plus satu poin berikut ini:

1. Keberadaan Tuhan. Untuk sebagian orang, gejala kejahatan yang disengaja atau tidak adalah satu-satunya evidensi yang kerap diandalkan atas ketiadaan Tuhan. Sebagai gantinya, David Hume menawarkan teori Organisme kosmik.

2. Keesaan Tuhan. Salah satu cara dari menghindar atau terhindar dari hujaman masalah ialah mengakui dua Tuhan; yang baik dan yang jahat. Sedikit banyaknya, cara ini juga bermunculan di berbagai agama. Pada Islam misalnya, pandangan Mu'tazilah memberi kesan semacam ini, yang menempatkan manusia sebagai pelaku independen kejahatan di dunia.

3. Ketakterbatasan Sifat Tuhan (ilmu, kuasa, sayang). Masalah kejahatan tidak lagi berarti dengan mereduksi sifat kuasa Tuhan menjadi terbatas seperti pada Teologi Proses, atau mereduksi sifat sayang seperti pada Teologi Natural, atau seperti W. James yang pragmatis yang mereduksi sifat ilmu dan kuasa, atau seperti J.S. Mill yang mereduksi ketiga sifat ini. (11). Umumnya reduksionisme ini menjadi basis kaum ateis atau agnostis untuk menolak poin pertama.

4. Kemahabijakan Tuhan. Sifat Ilahi ini menandakan bahwa Tuhan menciptakan manusia berdasarkan tujuan yang tentunya baik. Kenyataan dunia menunjukkan betapa manusia tidak hidup dan tidak mendapatkan tujuan penciptaannya. Hasilnya, bahwa Tuhan tidak bijak, tidak adil, dan tindakan-Nya sia-sia. Poin ini menjadi polemik serius di kalangan mutakallim muslim. Banyak solusi yang diajukan, seperti teori Iwadz, teori Intishaf, teori Imtihan, teori Takfir, atau teori Qhada'-Qodar yang sering dijadikan sebagai pembenaran politis atas kebijakan-kebijakan penguasa, sehingga agama praktis candu rakyat. Yakni, semua itu terjadi karena Allah dan pasti baik dan mulia.


5. Adanya kejahatan dan keburukan secara nyata. Tampaknya sudah menjadi tradisi filosof kristian dan muslim yang diawali oleh Plato; menafsirkan dan mentakwil hakikat kejahatan sebagai corak dari ketiadaan yang tidak ada kaitannya dengan wujud dan penciptaan. Jadi, Tuhan tidak pernah mewujudkan kejahatan, karena kejahatan bukan potensi untuk mengada, apalagi menjadi ada. Lalu, apakah kita anggap saja kejahatan dan keburukan yang kita rasakan atau kita saksikan seakan tidak pernah terjadi? Bagaimana dengan rasa nyeri di bagian tubuh lantaran malaria? Apakah kejahatan itu sendiri?

Adapun arti kejahatan atau keburukan prima facie sebegitu gamblang hingga tidak perlu definisi, saking seringnya kita merasakan kejahatan bahkan sejak kita bisa nangis, sampai susah untuk dinyatakan secara logis. Seperti pertanyaan terakhir tadi, kadangkala takut, resah atau nyeri yang kita rasakan menolak bila kejahatan diartikan sebagai ketiadaan. Mungkin ada benarnya Karl Jaspers menganggap bahwa kejahatan itu tak terdifinisikan (indefinible). Filosof kontemporer Muhammad Taqi Ja'farie menilai upaya para filosof, termasuk Ibnu Sina dan Umar Khayyam, gagal dalam merumuskan definisi kejahatan secara logis. Menurutnya, kata kejahatan akan lebih tepat digantikan oleh kata ketidaksenangan, sebab kata pertama itu mengandung arti kezaliman (12). Usulan ini amat dimengerti mengingat kejahatan yang dirasakan manusia di atas bersifat subjektif, yakni sejauh yang dirasakan seseorang. Karenanya, sebuah gejala belum tentu dirasakan semua orang sebagai kejahatan.

Maka itu, oleh filosof seperti Arestoteles, Thomas Aquinas, Ibnu Sina sampai Mulla Shadra, kejahatan didefinisikan juga sebagai sesuatu yang dibenci seseorang sebagai lawan dari kebaikan yang berarti sesuatu yang diinginkan. Keinginan dan kebencian terhadap sesuatu berbanding tidak lurus dengan keuntungan dan kerugian diri. Tidak lurus, sebab di antara keinginan dan keuntungan terdapat kualitas pengetahuannya akan keuntungan itu. Dan perbedaan penilaian atas baik jahatnya sesuatu amat bergantung pada pengetahuan kita ihwal menguntungkan tidaknya sesuatu itu. Dalam kasus siaga/awasnya Gunung Merapi saja, terjadi perselisihan pendapat. Tentunya, semakin wawasan seseorang atas dimensi kasus itu lebih luas, semakin lebih akurat penilaiannya atas untung ruginya kasus itu. Dari penilaian itulah ia bisa merasakan baik atau buruknya dampak sosial pada dirinya.

Bila dikaitkan dengan Tuhan, tampaknya penjelasan ini lebih menampilkan kekuatannya. Mungkin kita tidak begitu yakin akan kualitas dan kadar pengetahuan kita masing-masing, sehingga sesuatu yang kita rasakan dan kita hadapi punya nilai baik atau buruk yang berbeda pula. Kejahatan yang dirasakan orang bisa didiskusikan secara nisbi, sebab pengetahuan kita sama-sama tidak sempurna sehingga ada kemungkinan beberapa dimensi pada kejahatan itu luput dari pengetahuan kita; yang bila satu dimensinya saja kita ketahui akan bisa mengubah penilaian dan perasaan kita terhadapnya.

Al-Ghazali pernah melukiskan keadaan ini lewat sebuah cerita tentang seorang faqir dari sebuah kabilah baduwi yang dimakan anjing, kambing dan keledainya oleh binatang-binatang buas padang pasir dalam tiga malam berturut-turut. Di hadapan anak istrinya yang lemas manahan lapar ia menghibur: “Semua ini ada baiknya”. Pada malam keempat, kampungnya disergap perampok, dan banyak penduduk yang dibunuh. Namun ia selamat tidak didatangi, lantaran tidak satupun binatang di tendanya. Al-Ghazali memberi catatan ringan: "Beginilah kita manusia, berpikir bahwa itu baik, padahal itu sendiri yang justru membuat keburukan untuk kita" (13).

Apakah Masalah Kejahatan Menggugat Wujud Tuhan?

Pertama-tama, kita sebagai orang mukmin sejak awal harus dapat memastikan keimanan dasar agamanya, yakni keniscayaan wujud Tuhan, melalui argumentasi rasional. Dalam rangka ini, kita bisa memilih satu satu argumentasi rasional yang kuat, seperti burhan wujub wa imkan atau burhan shiddiqin yang umum diajukan oleh filosof-filosof muslim. Setelah berhasil membuktikan keniscayaan wujud Tuhan, kita harus dapat membuktikan bahwa Tuhan yang niscaya wujud-Nya itu pasti memiliki segenap kesempurnaan secara niscaya. Yakni, Tuhan sebagai Dzat yang niscaya keberadaan-Nya dengan sendiri-Nya adalah niscaya dari segala segi dan sisi, maka Dia adalah totalitas semua sifat-sifat kesempurnaan. Di sini, kita dapat menegaskan bahwa Tuhan adalah Maha Tahu, Kuasa Mutlak dan Mutlak Baik.

Kedua, kita akan menangani masalah kejahatan tanpa harus meragukan atau melupakan apa yang telah kita buktikan di langkah pertama di atas tadi. Dengan demikian, dapat diharapkan pemecahan masalah kejahatan secara logis. Sebelumnya, ada ilustrasi yang dapat mendekatkan pemecahan di sini (14). Anggap saja seorang fisikawan besar menulis buku tentang ilmu fisika! Dan kita benar-benar tahu bahwa ia menulis buku ini secara cerdas, cermat, indah dan sempurna. Yakni, semua huruf, kata, kalimat, rumusan dan angka buku dipilih oleh penulisnya dengan keahlian dan kekuasaan ilmunya. Lalu, kita pun percaya penuh bahwa tidak ada seorang fisikawan pun yang lebih pandai dan lebih tahu daripada penulis ini.

Kemudian, jika buku ini dibaca dan ditelaah, lalu tampak beberapa kejanggalan atau inkonsistensi antara satu halamannya dengan halaman yang lain, maka apa yang semestinya kita lakukan? Barangkali, ada dua kemungkinan untuk menyelesaikan gejala-gejala tersebut:

1. Kejanggalan dan inkonsistensi itu berasal dari penulis buku.

2. Kejanggalan dan inkonsistensi itu berasal dari kelemahan ilmu dan kemampuan minim kita dalam menguasai topik-topik permasalahan buku.

Namun, mengingat bahwa kita benar-benar tahu bahwa penulis buku adalah fisikawan terpandai, dan kita yakin bahwa semua masalah fisika tidak dituangkan di dalamnya secara keliru, maka kemungkinan kedua lebih mendekati kenyataan. Yakni, kejanggalan dan inkonsistensi di sepanjang penelaahan buku itu berasal dari kelemahan ilmu dan kemampuan minim ilmu diri kita sendiri.

Ilustrasi ini sesungguhnya juga dapat diterapkan pada cara kita membaca dan mengalami alam semesta ini. Pertama-tama, berdasarkan argumentasi rasional yang kuat, kita yakin bahwa Tuhan itu ada dan niscaya keberadaannya. Dia sebagai dzat yang Maha Tahu, Maha Kuasa dan Maha baik telah menciptakan alam ini. Namun, kita sebagai makhluk-Nya yang berpengetahuan di alam ini menjumpai berbagai fenomena-fenomena yang janggal dan tidak menyenangkan; fenomena-fenomena yang kita sebut dengan maslah-masalah keburukan, kejelekan, atau kejahatan. Untuk menafsirkan kejanggalan dan kegangguan fenomena-fenomena demikian ini, ada dua kemungkinan yang bisa diajukan:

1. Kejanggalan dan kegangguan itu berasal dari Tuhan Sang Pencipta.

2. Kejanggalan dan kegangguan itu berasal dari kelemahan dan kekurangan ilmu kita sebagai makhluk yang berpengetahuan.

Kemungkinan pertama tidak dapat dinyatakan benar, karena kita tahu bahwa alam semesta adalah makhluk dan ciptaan suatu dzat yang maha tahu, maha kuasa dan maha baik. Tentu, hasil, kesan dan kejadian apa saja yang bersumber dari dzat yang demikian ini adalah utuh, tanpa cacat, dan semua bagian-bagian dan unit-unitnya telah dipertimbangkan secara cermat, serta hubungan-hubungan antarsemua itu berlangsung atas dasar ilmu yang tak terbatas dan kebaikan mutlak Sang pencipta.

Nah, jika tiba-tiba atau beberapa kali kita menjumpai fenomena yang janggal atau mengalami kejadian yang mengusik, tidak bisa dengan serta merta kita memastikan bahwa kejanggalan dan usikan itu berasal dari kekurangan Tuhan Pencipta, sebab kita telah membuktikan sebelumnya bahwa Dia adalah Dzat Yang Maha Sempurna, Maha Tahu, Maha Kuasa dan Maha Baik. Oleh karena itu, dalam menafsirkan kejanggalan dan kegangguan yang tampak di alam ini, kita hanya punya kemungkinan yang kedua, bukan yang pertama. Yakni, jika kita menemui fenomena yang janggal dan kejadian yang mengusik, maka yang dipertanyakan adalah kualitas pengetahuan kita sendiri yang minim dan lemah. Kita menyatakan secara benar bahwa lantaran kita tidak punya pengetahuan yang memadai tentang fenomena-fenomena itu, maka kita melihat mereka sebagai kejanggalan, keburukan dan kejahatan. Padahal, semua itu pada hakikatnya diciptakan dengan penuh pertimbangan dan kebijaksanaan Allah Yang Maha Tahu, Maha Kuasa dan Maha Baik. Maka, segala sesuatu pada dasarnya dan pada dirinya adalah baik, tidak buruk atau jahat. Dengan demikian, masalah kejahatan tampaknya bukan lagi ancaman atas keimanan rasional terhadap wujud Tuhan dan segenap kesempurnaan mutlak-Nya, juga bukanlah ‘persoalan misterius yang tidak bisa dipecahkan’ (15).

Ali ibn Abi Thalib mengungkapkan: “Sesungguhnya dunia tidak akan berlangsung kecuali sesuai dengan yang telah ditetapkan oleh Allah padanya berupa kesenangan, penderitaan dan pembalasan di akhirat, atau dengan yang telah Dia inginkan dari apa-apa yang tidak kamu ketahui. Maka, jika terdapat hal-hal yang menyulitkan pemahamanmu, anggaplah semua itu lantaran kebodohanmu, karena sejak awal kamu diciptakan dalam keadaan bodoh kemudian diajari. Dan betapa banyak hal yang tidak kamu ketahui sampai pikiranmu menjadi buntu, pandanganmu menjadi terkecoh, lalu setelah itu kamu baru menyadarinya” (16).

Masalah Kejahatan ataukah Kebodohan Manusia?

Argumentasi di atas itu pada intinya mencoba menempatkan pikiran kita berada di dalam masalah dengan modal sebuah kesadaran akan ketidaktahuan, tanpa mesti menanggung kecamuk di batin. Kalaulah dianggap sebuah solusi, ketidaktahuan ini lebih merupakan sentuhan awal terhadap masalah. Tampak bagaimana pengertian dari kejahatan dan argementasi reasional di atas menitikberatkan pada kualitas pengetahuan manusia. Seperti dalam cerita Al-Ghazali, kita saja yang berpikir sesuatu itu baik atau buruk, padahal kenyataannya tidaklah demikian. Pengetahuan kita dalam menjangkau kenyataan sering berubah menjadi kebodohan. Tentu, amat besar jarak antara kebodohan sebagai proses manusiawi dan kebodohan sebagai determinasi, antara kebodohan aktif dan kebodohan pasif-pasrah seperti yang tampak pada pilihan Haidar Bagir itu.

Pengertian kejahatan di atas juga masih mengakomodasi kejahatan sebagai sesuatu yang ada dan dirasakan oleh seseorang. Namun, kejahatan yang dirasakan itu sebatas zahirnya saja tatkala kenyataan yang seutuhnya tersingkap. Pengertian itu memberi pesan bahwa manusia semestinya lebih terbuka memandang secara holistik terhadap gejala yang tampaknya jahat, tidak merasa cukup dengan cara partikularis. Cara ini bisa dimaklumi bila menunjuk pada keterbatasan pengetahuan manusia dan sikapnya yang selalu menimbang sesuatu dengan dirinya. Maka, kejahatan itu “tampak” ada, kendati “sejatinya” ia adalah kebaikan dan maslahat.

Selasa, 10 Maret 2009

Untuk apa manusia dilahirkan ke dunia ini

Untuk apa manusia dilahirkan ke dunia ini? Di manakah ia sebelum dilahirkan? Dan untuk apa ia dimatikan? Inilah persoalan setiap orang yang perlu dijawab dengan dengan hati-hati dan adil. Tepat jawabannya maka tepatlah tujuan hidup yang dipilihnya. Salah jawabannya salah pulalah tujuan hidupnya.

Melihat kepada kelompok-kelompok manusia yang berbagai nama dan ragamnya kita dapat mengetahui apakah tujuan hidup masing-masing. Lain kelompok lain pula tujuan yang ingin dicapainya. Ada yang ingin menjadi penguasa di muka bumi, ada ingin menyebarkan pengaruh, ada yang ingin menjayakan banga dan negara, ada yang ingin mencapai kekayaan, mengembangkan ilmu pengetahuan dan lain sebagainya. Alangkah banyaknya tujuan hidup yang dibuat oleh manusia. Mungkin sebanyak manusia itu sendiri. Namun pada umumnya, melihat kepada sikap hidupnya, manusia di seluruh pelosok bumi ini cenderung menjadikan hidupnya untuk :

1. Makan, minum, berumah tangga, berketurunan, tua, kemudian mati. Itu saja. Oleh karena itu yang menjadi permasalahan adalah bagaimana mencari uang untuk keperluan-keperluan tadi. Bekal hidup di akhirat tidak diperhitungkan lagi. Tuhan tidak penting lagi. Hanya saja di saat susah barulah teringat dan minta tolong kepada Tuhan. Apabila telah berhasil, selamat tinggallah Tuhan.

2. Sebagian manusia lagi menjadikan tujuan hidupnya selain untuk makan minum, dan berumah tangga, juga untuk mendapatkan kuasa. Dengan kuasa tersebut diharapkan bisa menguasai atau mempengaruhi bangsa dan kolompok lain di dunia. Cita-cita dan tujuannya adalah menjadi tuan terhadap manusia lain di dunia. Maka terjadi perjuangan untuk menjatuhkan penguasa-penguasa lain atau untuk menaklukkan daerah yang belum dikuasai. Kelompok ini sanggup mengorbankan tenaga, harta dan jiwa raga bahkan membunuh dan berperang untuk mencapai tujuannya.

3. Sebagian yang lain menjadikan tujuan hidupnya untuk mencari kemuliaan diri. Yaitu dengan menunjukkan kelebihan dan berbanggabangga. Karena dengan demikian akan muncul rasa mulia dan akan dimuliakan orang lain. Jangan sampai terhina dan dihinakan. Atas tujuan inilah manusia rela bersusah payah mencari kelebihan baik harta benda, ilmu pengetahuan, pangkat, gaji, kecantikan, popularitas dan lain-lain.

Dengan tujuan-tujuan hidup tersebut dapat kita lihat hasilnya pada kehidupan manusia, kekacauan terjadi di sana-sini, perebutan harta dan kekuasaan, hasad dengki, prasangka buruk, fitnah, amarah, peperangan, perebutan wilayah dan sumberdaya alam, yang kuat makin kuat menganiaya yang lemah dan yang lemah terbiar menimbulkan masalah, kesenjangan sosial, rusaknya moral masyarakat, pergaulan bebas karena tidak mampu mengendalikan nafsu melanda masyarakat tanpa pandang tingkat pendidikan dan lain-lain. Melihat kenyataan ini manusia patut untuk berpikir ulang dan mencari di manakah letak kekeliruannya.

Jika melihat dari asal kejadiannya dan kesudahan hidup kita kelak, orang yang bijak akan menyadari bahwa kehidupan kita yang sebenarnya bukan di dunia ini. Dunia ini hanyalah jembatan saja menuju ke kehidupan akhirat, tempat asal kita. Marilah kita coba merujuk kepada Tuhan yang telah menciptakan manusia dan alam semesta ini, yang membekali manusia dengan hati ( jiwa atau ruh ), akal dan nafsu.

“Tidak Aku jadikan jin dan manusia melainkan untuk menyembahKu” (Az Zaariyat: 53)

“Sesungguhnya Kami telah mengilhamkan kepada jiwa itu dua jalan yaitu jalan kefasikan dan jalan ketaqwaan.” (Asy Syam: 8)

“Sesungguhnya nafsu itu sangat mengajak kepada kejahatan.” (Yusuf: 53)

“Apakah tidak engkau perhatikan orang-orang yang mengambil hawa nafsu sebagai Tuhan, lalu dia disesatkan ALLAH.” ( Al Jaasyah: 23)

Maknanya, Tuhan mengajarkan kepada kita bahwa tujuan hidup manusia adalah untuk menuju kepadaNya. Dan untuk memudahkan hal itu maka Tuhan membekali dengan jiwa yang bertaqwa dan akal untuk memikirkan, mengkaji dan memilih. Kemudian kembali kepada masing-masing individu untuk memilih tujuan hidupnya, menuju ALLAH atau mengikuti hawa nafsunya.

Oleh karena itu, janganlah kita terkeliru dengan menjadikan dunia sebagai tujuan. Dunia hanya jalan saja. Perbedaan antara tujuan dan jalan adalah bahwa tujuan hanya satu dan harus dicapai sedangkan jalan bisa bermacam-macam menurut keperluan. Jika jalan bertentangan dengan tujuan, baik dalam niatnya, perkaranya, caranya, atau hasilnya, janganlah jalan itu digunakan. Pastilah kita tidak pernah sampai di tujuan. Ibarat orang di perantauan, pasti kita semua ingin kembali dengan selamat ke kampung halaman. Tentunya tidak ada yang menginginkan tertinggal selamanya di perjalanan karena terkeliru dalam menentukan mana jalan mana tujuan. Astaghfirullahaladzim.

mengenai manusia

Filsafat ialah tertib atau metode pemikiran yang berupa pertanyaan kepada diri sendiri tentang sifat dasar dan hakikat berbagai kenyataan yang tampil dimuka. Filsafat manusia merupakan bagian dari filsafat yang mengupas apa artinya manusia. Filsafat manusia mempelajari manusia sepenuhnya, sukma serta jiwanya.
Filsafat manusia perlu dipelajari karena manusia adalah makhluk yang mempunyai kemampuan hak istimewa dari sampai batas tertentu memiliki tugas menyelidiki hal-hal secara mendalam. Manusia dapat mengatur dirinya untuk dapat membedakan apa yang baik dan buruk baginya yang harus diperoleh dari hakikat diri manusia.
Kesulitan Bagi Suatu Filsafat Manusia
Filsafat berpretensi mengatakan apa yang paling penting bagi manusia. Para filsuf mangatakan dan menimbulkan berbagai pendapat. Bagi Platon dan Platin misalnya, manusia adalah suatu makhluk ilahi. Bagi Epicura dan Lekritius sebaliknya manusia yang berumur pendek lahir karena kebetulan dan tidak berisi apa-apa. Descartes mengambarkan manusia sebagai terbetuk dari campuran antara dua macam bahan yang terpisah, badan dan jiwa.
Perlunya dan Kemungkinan Filsafat Manusia
Filsafat mengajukan pertanyaan dan mengupasnya. Filsafat bertanya pada diri sejak ribuan tahun apakah manusia itu, dan darimana datangnya manusia, tempat apakah yang didudukinya dalam alam semesta yang luas, darimana manusia datang dan untuk apakah ia ditakdirkan.
Watak Sifat Manusia, Obyek Filsafat Manusia
Filsafat manusia menduga bahwa suatu watak manusia suatu kumpulan corak-corak yang khas, atau rangkain bentuk yang dinamis yang khas yang secara mutlak terdapat pada manusia. Kategori manusia secara fundamental dari semua kebudayaan memiliki kesamaan. Suatu kebudayaan manusia tidak mungkin ada tanpa bahasa. Semua kebudayaan diatur untuk dapat menyelamatkan solidaritas kelompok yang dengan cara memenuhi tuntutan yang diajukan oleh semua orang, yaitu dengan mengadakan cara hidup teratur yang memungkinkan pelaksanaan kebutuhan vital mereka.

Perbedaan Filsafat Manusia dengan Ilmu-Ilmu yang bersangkutpaut dengannya.
Ilmu yang mengemukakan kesimpulan-kesimpulan dengan bahasa matematika, yang menunjukkan bahwa mereka dalam objeknya mencapai secara langsung hanya apa yang dapat diukur dan dapat dihitung jumlahnya. Filsafat mengarahkan penyelidikannya terhadap segi yang mendalam dari makhluk hidup. Filsafat bertanya apakah yang paling mendasar memberi corak yang khas pada manusia, apakah yang menyebabkan ia bertindak sebagimana yang ia lakukan.
Titik Tolak dan Objek yang Tepat Filsafat Manusia
Fisafat selalu tergantung dari konteks kebudayaan dimana dia berkembang, namun dia tetap merupakan sesuatu yang sama sekali berlainan dengan jumlah atau perpaduan segala pengetahuan dari suatu zaman. Filsafat tidak dituntut untuk mempergunakan kesimpulam-kesimpulan sebagai titik tolak yang wajib bagi pemikirannya. Maka seharusnya bertolak dari pengetahuan dan pengalaman manusia, serta dunia yang secara wajar ada pada setiap individu yang dimiliki oleh semua orang secara bersama-sama.

Metode Filsafat
Filsafat bersifat interogatif. Ia mengajukan persoalan-persoalan dan mempertanyakan apa yang tampak sebagai sudah jelas. Ilmu pengetahuan mengemukakan pertanyaan. Filsuf memberikan pertanyaan ke jantung hal-hal atau sampai ke akar persoalan. Metodenya bersifat diagonal atau menurut ungkapan dialektik. Plato melalui diskusi antara guru dan murid kemudian dikemukaan persoalan yang setapak demi setapak demi mencapai pemecahan. Dialektik merupakan hasil pengumpulan, penjumlahan, dan penilaian kritik dari semua opini yang didapatkan dari sesuatu masalah yang telah dikemukaan. Aristoteles selalu memulai dulu dengan mengemukaan apa yang telah dia katakan tentang masalah oleh para pendahulunya. Pada Hegel, dialektik menjadi cara yang mulai dengan memperlawankan dua ide yang saling bertentangan lalu mendamaikan mereka dengan unsur ketiga yang mengandung kedua ide itu dan merupakan sintesis daripadanya.
Metode filsuf pada aliran Descartes disebut aliran filsafat bersifat refleksif. Sang filsuf hendaknya penuh perhatian terhadap gejala-gejala terutama dalam arti luas sebab ia berpendapat bahwa sang filsuf hendaknya penuh perhatian terhadap gejala-gejala. Mulai dari Husserl di Jerman, metode filsaat diklasifikasikan fenomologis. Filsafat ingin menjelaskan gejala-gejala secara objektif mungkin menurut bagaimana gejala itu menampilkan diri terhadap kesadaran.

Keberadaan Manusia
Manusia mampu mengetahui dirinya dengan kemampuan berpikir yang ada pada dirinya. Manusia menghasilkan pertanyaan tentang segala sesuatu. Filsafat lahir karena berbagai pertanyaan yang diajukan oleh manusia. Ketika Manusia mulai menanyakan keberadaan dirinya, filsafat manusia lahir dan mempertanyakan, “siapakah Kamu Manusia?” Manusia bisa memikirkan dirinya, tapi apakah tujuan pertanyaan yang diajukannya. Keberadaan dirinya diantara yang lain yang membuat menusia perlu mendefinisikan keberadaan dirinya.
Apabila pernyataan bahwa manusia dapat mengatur dirinya untuk dapat membedakan apa yang baik dan buruk baginya yang harus diperoleh dari hakikat diri manusia. Hakikat diri manusia tidak akan muncul ketika tidak terdapat pembanding diluar dirinya. Sesuatu yang baik dan buruk pada manusia menunjukkan dirinya ada dinilai diantara keberadaan yang lain.
Watak manusia merupakan suatu kumpulan corak-corak yang khas, atau rangkain bentuk yang dinamis yang khas yang secara mutlak terdapat pada manusia. Manusia berada dengan yang alain menciptakan kebudayaan. Suatu kebudayaan manusia tidak mungkin ada tanpa bahasa. Bahasa melakukan enilain tentang keberdaan manusia berupa wujud yang dapat diterjemahkan melalui kata-kata. Filsafat mengarahkan penyelidikannya terhadap segi yang mendalam dari makhluk hidup karena terdapat penilaian dari yang lain sebagai pembanding. Pengetahuan dan pengalaman manusia, serta dunia yang secara wajar ada pada setiap individu yang dimiliki oleh semua orang secara bersama-sama malakukan penilaian diantara individu manusia.

Senin, 09 Maret 2009

hakikat manusiaaaaa

Manusia sebagai mahluk yang berdimensional memiliki peran dan kedudukan yang sangat mulia. Tetapi sebelum membahas tentang peran dan kedudukan, pengulangan kembali tentang esensi dan eksistensi manusia. Manusia yang memiliki eksistensi dalam hidupnya sebagai abdullah, an-nas, al insan, al basyar dan khalifah. Kedudukan dan peran manusia adalah memerankan ia dalam kelima eksistensi tersebut. Misalkan sebagai khalifah dimuka bumi sebagai pengganti Tuhan manusia disini harus bersentuha dengan sejarah dan membuat sejarah dengan mengembangkan esensi ingin tahu menjadikan ia bersifat kreatif dan dengan di semangati nilai-nilai trasendensi. Manusia dengan Tuhan memiliki kedudukan sebagai hamba, yang memiliki inspirasi nilai-nilai ke-Tuhan-an yang tertanam sebagai penganti Tuhan dalam muka bumi. Manusia dengan manusia yang lain memiliki korelasi yang seimbang dan saling berkerjasama dala rangka memakmurkan bumi. Manusia dengan alam sekitar merupakan sarana untuk meningkatkan pengetahuan dan rasa syukur kita terhadap Tuhan dan bertugas menjadikan alam sebagai subjek dalam rangka mendekatkan diri kepada Tuhan. Setiap apa yang dilakukan oleh manusia dalam pelaksana pengganti Tuhan sesuai dengan maqasid asy-syari’ah. Maqasid asy-syari’ah merupakan tujuan utama diciptanya sebuah hukum atau mungkin nilai-esensi dari hukum, dimana harus menjaga agama, jiwa, keturunan, harta, akal dan, ekologi. Manusia yang memegang amanah sebagai khalifah dalam melakukan keputusan dan tindakannya sesuai dengan maqasid asy-syari’ah.
Pada hakikatnya tujuan manusia dalam menjalankan kehidupannya mencapai perjumpaan kembali dengan Penciptanya. Perjumpaan kembali tersebut seperti kembalinya air hujan kelaut. Kembalinya manusia sesuai dengan asalnya sebagaimana dalam dimensi manusia yang berasal dari Pencipta maka ia kembali kepada Tuhan sesuai dengan bentuknya misalkan dalam bentuk imateri maka kembali kepada pencinta dalam bentuk imateri sedangkan unsur mteri yang berada dalam diri manusia akan kembali kepada materi yang membentuk jasad manusia. Perjumpaan manusi dengan Tuhan dalam tahapan nafs, yang spiritual dikarenakan nafs spiritual yang sangat indah dan Tuhan akan memanggilnya kembali nafs tersebut bersamanya. Nafs yang dimiliki oleh manusia merupakan nafs yang terbatas akan kembali bersama nafs yang mutlak dan tak terbatas, dan kembalinya nafs manusia melalui ketauhidan antara iman dan amal sholeh. Pertemuan nafs manusia dengan nafs Tuhan merupakan perjumpaan dinamis yang sarat muatan kreatifitas dalam dimensi spiritualitas yang bercahaya. Kerjasama kreatifitas Tuhan dengan manusia dan melalui keratifitasnya manusia menaiki tangga mi’raj memasuki cahaya-Nya yang merupakan cahaya kreatifitas abadi.
Proses bertemunya nafs manusia dengan Tuhan dalam kondisi spiritual tercapai jika manusai berusaha membersihkan diri dari sifat yang buruk yang ada padanya. Perjumpaan nafs tersebut dapat dilihat pada sufi yang memenculkan berbagai macam ekspresi dalam perjumpaannya. Sebagaimana yang terjadi pada al Halaj, Yazid al Bustami Rabiah al Adawiyah dan yang lain mereka memiliki ekspreasi dan kelakuan yang berbeda ketika meresakan berteumnya dengan Pencipta. Tetapi dari sini manusai mendaki tangga mi’raj menuju nafs Tuhan dengan cinta dan karena cinta pula terbentuknya alam serta manusia. Setelah menyatunya manusia dalam dimensi spiritual dengan Pencipta, lantas tak memperdulikan dengan yang lain dengan menyatu terus dengan pencipta. Tetapi manusia setalah menyatu, memahami cinta pada Pencita itu dimanifestasikan cinta tersebut untuk sesama manusia dan alam. Proses penebaran cinta tersebut menjadikan manusia dapat bermanfaat pada yang lain menjadika diri sebagai cerminan Tuhan dalam muka bumi. Pencitraan Tuhan dalam diri manusia menjadikan ia sebagai insan kamil dan dalam ajaran agama dapat menjadi rahmat bagi yang lain baik sesama manusia ataupun alam.